Archive for » 2008 «

It’s breaking my heart

Kalau anak ceria menggembirakan hati ibu bapaknya..
Kalau anak sakit… menghancurkan hati….

Allahumma ‘aafini fii badani
Allahumma ‘aafini fii sam’i
Allahumma ‘aafini fii bashari

Inni u’idzuka bikalimatiLlahittammahh
min kulli syaithon
wa min kulli hammah
wa min kulli ‘ainil lammah…

Celoteh si Cantik

aduh kena

lohhh lepasshh

ibu.. tumpah..

sakiittt

eh jatuhhh

tooongg ambin tolong ambil

uuuuhhh butca  uuhh buka

mana.. mana…

terima kaaaaasiiihhh

Kalimat lagu-lagu (16 sasi)

Kalau sebulan lalu, lagu-lagu ditirukan belakang belakangnya saja, maka sekarang satu kalimat bisa mba nyanyikan.

tik tik tik bunyi hujan…

ki ki ki. .ada speda

kudapat dari abah

shoatuwoh saaamuwwohh

ala yasin habibiyah..

Lagu-lagu yang suka disenandungkan mba..
Tik tik tik bunyi hujan
Topi nana bundar
kring kring kring ada speda
Sholawat
a ba ta tsa
becak becak
cicak di dinding
satu satu nana sayang ibu
I did it my way

masyaAllah.. Allah telah mengilhamkan banyak hal. Dan tanpa ibu sadari, apa-apa yang pernah ibu lakukan sekarang lagi keluar klik momennya. Lagi-lagi ini membenarkan dan membuktikan teori bahwa bayi itu fast learner, pemerhati nomor wahid, dan pengekstraksi paling jitu. Makanya ibu harus lebih rajin mengajari banyak hal.. terutama biar si cantik kenal Allah.

14 sasi mba nana

Sudah terlewat hampir setengah sasi, beberapa hal membuat ibu belum sempat bersilaturahmi di rumah mba nana ini. Alhamdulillah mba nana sehat ceria, ngomongnya makin cerewet, polah tingkahnya makin lucu-lucu menyenangkan ibu. Kalau sebelumnya satu kata satu kata, sekarang semakin terangkai dua kata-dua kata. Dan seiring perkembangan, mba nana semakin cepat menangkap kosakata dan menirukannya. Mungkin lidahnya makin gemulai, banyak makan, banyak ngomong, dan ketawa he…

Tepat di usia 14 sasi, mba panas tinggi, hari sebelumnya ibu ajak mba keluar. berhari-hari sebelumnya mba kurang asupan makan, kemungkinan besar daya tahan tubuhnya sedang tidak bagus, sehingga udara yang mengandung penyakit tak mampu di tahan. Hari Minggu malam tanggal 16 September mba panas,ibu kasih obat penurun panas, cuman karena pahit dimuntahin, dua kali ibu kasih obat, dimuntahin terus. Esok senin pagi panas keliatan turun. Tetap mba terlihat manis dan baik, ceria bermain.

Selasa siang hari mba panas, dibawa aki keluar siangs-siang di udara panas, tidak jauh sebenarnya hanya ke rumah ibu mertua dan kembali lagi ke rumah untuk tidur, siang harinya tidur siang di udara yang sangat panas, bangun ibu ambilin makan, kita berdiri dekat jendela, abis itu ibu kasih nen, tiba-tiba mba kejang. Ya Allah, ibu benar-benar panik, tidak ada orang di rumah, ibu bopong mba nana sambil nelepon ibu mertua. Ibu belum berpengetahuan menghadapi anak kejang, hanya kalimat2 dzikir yg ibu tahu. Ibu mertua segera mengompres tubuh mba dengan air suam kuku, dibaringkan, dilepas bajunya, mungkin sekitar 5-10 menit mba ga sadar. Alhamdulillah akhirnya sadar, kemudian mengantuk lemes sekali. Segera ibu bawa ke dokter anak. Oleh dokter Diet diberikan obat anti kejang di dubur, ibu diberikan obat racikan penurun panas dan anti kejang, suhu mba waktu itu 39,2. Innalillahi, ibu masih suka ngeri mengingat momen tersebut. Ibu bertemu dua teman ibu yang kebetulan melihat ibu di ruang dokter, entah, sejak menjumpai mba nana kejang Ibu tidak meneteskan air mata, mungkin ibu berfokus pada bagaimana menangani mba nana, jadi emosional ibu belum begitu terasa. Tapi begitu dua temen ibu datang menemui ibu, tak bisa dibendung lagi air mata ibu mengalir terus. Rasa bersalah, khawatir mendera ibu. Semoga Allah mengampuni kelalaian ibu menjaga amanah-Nya. Semoga Allah terus menolong ibu merawat mba nana…

Sepanjang selasa malam ibu dan ibu mertua berjaga, setelah sekitar empat lima jam obat racikan diberikan, panas mba naik lagi. Ibu nelepon sahabat ibu yang biasa jadi tempat bertanya, selain beliau sudah mempunyai tiga anak, orangnya tidak panikan, tetapi juga tidak sembrono. Seorang apoteker, sehingga biasanya saya bisa nanya-nanya tentang obat. Teh Nia mengatakan kuncinya ketenangan ibu, kalau sudah diberi obat panas dan anti kejang, insyaAllah bertahan, kalau sudah tiga kali sehari dikasih dan masih panas, berikan obat penurun panas yang lain. Aki juga saya minta bertanya ke dokter tetangga, dokter Budi mengatakan dijaga aja kondisi anaknya, dihabiskan obatnya, kalau masih panas naik turun setelah obat habis, baru tes darah. Tetapi rupanya keluarga masih memiliki penasaran, sehingga menyarankan untuk tes darah. Hmmm..tidak ada abah, kerasa sekali di saat seperti ini, saat pengambilan-pengambilan keputusan. Demi menghabiskan penasaran, Rabu sore mba ibu bawa lagi ke dokter anak, kali ini dengan dokter Yenni, diminta tes darah. Hasilnya Leukosit Normal, Trombosit turun ke 133 ribu. Dugaan dokter Demam Berdarah, sehingga langsung rawat inap sore itu juga. Innalillahi, dalam satu tahun ini, ibu, abah, dan sekarang mba nana yang mengalami DB.

Sepanjang sekitar tigapuluh menit ibu menunggu ketersediaan kamar sore itu. Ibu duduk sendiri di ruang tunggu pasien dokter anak, menggendong mba nana yang tertidur lemas. Biarlah, air mata ini terus mengalir sambil memandangi mba nana, memang dasar ibu cengeng, abah I need u… Ibu tidak mampu membendung perasaan. Orang-orang memandang ibu dengan rasa iba dan penasaran. Seorang diri di pojok kursi yang sepi, nangis lagi menggendong dan memandangi anaknya. Meni kayak sinetron he..

Setelah mendapat kamar, ibu menggendong mba keatas, ibu tidak diperkenankan menemani mba di ruang tindakan. Mungkin karena nanti anaknya lebih rewel saat dipasang infus, atau mungkin orang tuanya nanti yang bikin masalah, entahlah. Dari luar pintu ibu mendengar tangisan mba nana yang khas jika kesakitan, sambil memanggil bu..ibu..ibu… meminta tolong. Bagaimana lagi, ibu hanya menanti di luar sambil banjir he…

Sejak Rabu sore mba rawat inap, awalnya tidak suka dengna infus di tangan kirinya, hendak dibuangnya, pit..pit..pit (maksudnya dia menganggap tangannya kecepit). Tetap, mba menjadi gadis kecil yang baik hati, tidak rewel, dan menyenangkan ibu. Diambil darah tiap subuh, ah kasian.. menangis sesaat, hati ibu hancur. Esok kamis trombositnya turun ke 98, leukosit normal, hematokrit normal, suhu badan jg tidak panas lagi. Esok jum’at trombosit naik 125, sabtu pagi turun 103, sabtu sore turun 101. Ah mba nana, dia nampak bosan di tempat tidurnya, pengennya main saja. Kami ajak keluar sesekali. Memang agak aneh, anaknya tak tampak lemes seperti pas panas dulu, makannya juga lahap,Alhamdulillah. Dokter Yenni menyarankan tes IGG IGM (bener ga?) untuk melihat apakah memang virus DB, ataukah virus yang lain? Tes ini baru bisa dilakukan setelah hari ke tujuh sejak pertama panas. Kalau tidak, hasilnya tidak akan akurat. Hasilnya NEGATIF DB, Alhamdulillah (bercampur sedih, miris) ternyata mba terkena virus biasa, ketika daya tahannya tidak bagus.

Bagaimana lagi, ibu yang awam hanya bisa memaklumi keputusan dokter sejak awal, hari-hari ini penyakit makin aneh-aneh, gejala-gejalanya tidak lagi khas penyakit tertentu, sehinga yang bisa dilakukan dokter ya observasi, atau daripada..daripada.. lebih baik..lebih baik… Ibu berharap dokter-dokter makin rajin belajar dan makin pinter, sehingga lebih jitu observasinya.

Setelah semua yang harus dialami mba nana, jarum infus, ambil darah, terkungkung di bed rumah sakit, dan mungkin jg psikologisnya. Ibu hanya bisa memohon ampun kepada Allah, atas kelalaian ibu, rasa sakit, penderitaan yang harus dialami mba nana. Ibu mohon ampun atas kebodohan ibu, keputusan ibu yang mungkin salah. Ibu berharap Allah memandangnya sebagai ikhtiar ibu sebagai orang tua. Ibu mohon pertolongan Allah agar dibantu setiap saat dalam menjaga mba nana. Sekarang ibu selalu siaga obat siaga yang diperlukan, mudah-mudahan, cukup sekali saja yang dialami mba nana.

Millah..Millah..

Anak abah ini sudah kebiasaan kalau mau bobo digodain abahnya, main-main dikasur sampe cape baru minta nen dan bobo. Sekarang ga ada abahnya, ga luntur-luntur juga kebiasaannya. Ada saja yang dioprek. Setelah ibu bacakan doa-doa menjelang tidur, tak langsung bobo rupanya. Ada daftar request dulu :
millah..millah : ini ibu harus menyenandungkan bismillah tawassalana billah.. dst…
pi..pi..sambil megang kepala: ini minta lagu topi saya bundar
cicak..cicak.. sambil telunjuk nunjuk langit-langit: ini minta lagu cicak di dinding
wit..wit..wit.. sambil ngejiwit tangannya: ini minta lagu pajiwit-jiwit lutung
becak..becak.. : ini minta lagu Becak
ap..ap..: ini minta lagu kisah Mush’ab bin Umari (karangan ibu sendiri he..)
itat..atitat.: ini minta lagu kisah ikan hiu dan nabi Yunus (karangan ibu juga..)
atau diem sambil ngenen ga bobo bobo, ini ibu harus menyenandungkan cerita nabi atau sahabat lagi, tapi harus bernada, kalau tidak marah deh mba…

Kadang kalau ibu sudah teler juga ga mampu lagi bersuara, tapi diem juga tuh anak abah, ngerti kali ibunya dah teler berat. Ada-ada saja si cantik teh.

Be Aaaa Baa

Seingat ibu, ibu belum pernah mengajari mba nana alfabet, atau mengeja.
Akhir-akhir ini, mba nana sering sekali mengeja. Ketika melihat kertas atau brosur, pada gambar-gambar poster miliknya di dinding. Pada bon-bon belanja yang ditemukannya. Dan sekarang pada buku Chomsky lecek di bawah bantal ibu yang sedang ibu baca, juga ikut dibuka-buka nya. Be..Aaa.. Be…Aa.. Ba…Aa… a… A..Be..Be…

Mungkin mba nana pernah melihat eceu nya latihan alfabet sama aki, jadi ditirunya…
ih anak-anak.. memang ajaib, masyaAllah!

Sedang panas

Hmmm… Alhamdulillah, sepanjang hampir 14 bulan ini, mba nana sehat ceria. Tercatat sakit yang pernah dialami adalah dua kali diare di usia 7 bulan-an. Pernah juga bintik biang keringat kayak bisul di usia 4 bulanan. Sekarang dua hari ini mba suhu tubuhnya agak tinggi dari biasanya, membuatnya tak nyaman, merengek-rengek ke ibu. Alhamdulillah masih bisa makan banyak. Jadi ibu teter dengan ASI, makan yang dipersering, dan bobo yang diperbanyak. Ya Allah sehatkan mba nana. Allahumma ‘aafinii fii badani, Allahumma ‘aafini fii sam’i, Allahhumaa ‘aafinii fii basharii..

* Tgl 21 ahad esok mba akan mudik, perjalanan  malam kurang lebih 12-14 jam ke Batu
* Sebelum tgl 21 ibu harus menyelesaikan agenda kerjaan ibu, membereskan sebuah website untuk perusahaan. Semoga Allah memberi kemudahan untuk rencana-rencana ibu dan mba nana.

iihh ada cacing ;))

Tiga hari kemarin, ibu mendapati mba eek di jam-jam yang tak biasanya. Beberapa hari ini mba eek setelah maghrib atau subuh, dan juga terlihat lebih lembek. Karena sudah tiga hari ibu mulai pasang alarm, ada yang kurang benar pada pencernaannya.

Maka sore kemarin ibu membeli yoghurt, dokter dan bukan dokter menganjurkan yoghurt sebagai asupan yang bagus untuk pencernaan. Maghrib kemarin mba makan yoghurt, paginya ada kejadian yang rada ancur tapi bermanfaat

Mba telah bisa mengucakan eek kalau lagi eek, tetapi terkadang masih selip, pipis juga dibilang eek, meskipun lebih sering benar menginformasikan kondisi sedang eek atau mau eek. Pagi tadi sehabis mandi mba duduk bersama ibu sambil makan makanan ringan, mba bilang eek, eh ibu pegang kok basah, ibu bilang ke mba nana, mba ini pipis bukan eek, abahnya juga menambahkan, mba ini pipis piii..piissss…

Ibu angkat mba nana ke belakang untuk ganti celana, ibu lepas celananya, kemudian ibu berjalan ke lemari mba nana, masih sambil menggendong mba, kemudian ibu duduk lagi di ruang tamu di karpet. Loh kok bau ya… wadowww ternyata eek mba dimana mana, di baju ibu, di lengan ibu Mba larti juga ikut-ikutan teriak, wah ini ada di lantai depan lemari baju mba, ada di tembok dekat air, wah lah yah memang mba nana sudah benar bilang eek, ibunya ga ngeliat langsung aja lepas celana, jadi deh ga karuan ha ha ha..

Jadi mba nana dimandiin lagi deh, badannya kan kena semua, nah diliat di eeknya teh ada cacing hiiiiii… berarti tiga hari ini yang bikin eek mba nana ga biasa adalah si cacing, Alhamdulillah dengan yoghurt cacingnya kegerahan di dalam jadi keluar. Biasanya cacing keluar kalo dikasih obat cacing.

Progres Toilet Training

Beberapa catatan ibu:
1. Mba nana sudah bisa bilang eek kalau mau eek, dan sesekali tepat bisa bilang pipis untuk pipis, sehingga bisa didudukkan di pispotnya.(dalam perkembangannya mba na lebih dahulu bisa berbicara dibanding berjalan)
2. Awalnya ketakutan didudukkan di pispot, karena mungkin yg mendudukkan pada heboh, dan pengalaman pertama bagi mba na, akhirnya mulai terbiasa, tapi ya itu.. suka nyo ok nyo ok air yg di pispot
3. Untuk eek lebih bisa diantisipasi karena melibatkan serangkaian proses yang lebih sadar he..he..he.. keringetan, ngeden
4. Untuk pipis masih sulit diantisipasi, karena mungkin lebih tidak sadar. Kalau bangun tidur sudah ibu biasakan ditaruh pispot, jadi deh pipis
5. Ternyata faktor kegigihan ibu yang jadi penghambat utama, kadang ibu mau praktis, jadi dipakein pampers, atau ibu yang tidak sabar, kok toilet training ga sukses sukses, padahal anak dalam proses belajarnya ternyata mengalami perkembangan!
6. Ibu belum berani melepas pampers untuk malam hari, padahal mah lepas ajah atuh bu… sudah pake perlak ini..
7. Ini yang paling parah, ibu suka ga disiplin di jam-jam waktunya natur, sukanya teh kelewatannn aja..

Kebisaan Bicara

Mba nana lebih dahulu memperlihatkan kebisaannya berbicara, hingga usianya yang hampir 12,5 bulan ini, mba nana belum memperlihatkan kebisaannya berjalan, suka main-main nglepas lepas tangan berdiri sendiri.

Kata-kata yang disampaikannya terus bertambah, dan semakin mudah bertambah setiap harinya. Diantaranya yang bisa ibu ingat saat ini:
1. abah
2. ibbbbu, bbbuu (masih belum sejelas abah)
3. aki, ati
4. nin
5. nen, nenen
6. Alloh, Awwoh
7. Jaa, ijja
8. piii, ipppi
9. amin, min amin
10. mam, ma mam
11. mimi, mimik
12. dat (dut kentut)
13. nih, innihh
14. eek
15. pipi, pipis
16. bussss
17. biss, abiss
18. bobo
19. yeta (kereta)
20. ne ne ne ne ne (no no no no/tidak boleh)
21. mamau mamau (ga mau)
22. dada.. (sambil melambaikan tangan)