Sudah terlewat hampir setengah sasi, beberapa hal membuat ibu belum sempat bersilaturahmi di rumah mba nana ini. Alhamdulillah mba nana sehat ceria, ngomongnya makin cerewet, polah tingkahnya makin lucu-lucu menyenangkan ibu. Kalau sebelumnya satu kata satu kata, sekarang semakin terangkai dua kata-dua kata. Dan seiring perkembangan, mba nana semakin cepat menangkap kosakata dan menirukannya. Mungkin lidahnya makin gemulai, banyak makan, banyak ngomong, dan ketawa he…
Tepat di usia 14 sasi, mba panas tinggi, hari sebelumnya ibu ajak mba keluar. berhari-hari sebelumnya mba kurang asupan makan, kemungkinan besar daya tahan tubuhnya sedang tidak bagus, sehingga udara yang mengandung penyakit tak mampu di tahan. Hari Minggu malam tanggal 16 September mba panas,ibu kasih obat penurun panas, cuman karena pahit dimuntahin, dua kali ibu kasih obat, dimuntahin terus. Esok senin pagi panas keliatan turun. Tetap mba terlihat manis dan baik, ceria bermain.
Selasa siang hari mba panas, dibawa aki keluar siangs-siang di udara panas, tidak jauh sebenarnya hanya ke rumah ibu mertua dan kembali lagi ke rumah untuk tidur, siang harinya tidur siang di udara yang sangat panas, bangun ibu ambilin makan, kita berdiri dekat jendela, abis itu ibu kasih nen, tiba-tiba mba kejang. Ya Allah, ibu benar-benar panik, tidak ada orang di rumah, ibu bopong mba nana sambil nelepon ibu mertua. Ibu belum berpengetahuan menghadapi anak kejang, hanya kalimat2 dzikir yg ibu tahu. Ibu mertua segera mengompres tubuh mba dengan air suam kuku, dibaringkan, dilepas bajunya, mungkin sekitar 5-10 menit mba ga sadar. Alhamdulillah akhirnya sadar, kemudian mengantuk lemes sekali. Segera ibu bawa ke dokter anak. Oleh dokter Diet diberikan obat anti kejang di dubur, ibu diberikan obat racikan penurun panas dan anti kejang, suhu mba waktu itu 39,2. Innalillahi, ibu masih suka ngeri mengingat momen tersebut. Ibu bertemu dua teman ibu yang kebetulan melihat ibu di ruang dokter, entah, sejak menjumpai mba nana kejang Ibu tidak meneteskan air mata, mungkin ibu berfokus pada bagaimana menangani mba nana, jadi emosional ibu belum begitu terasa. Tapi begitu dua temen ibu datang menemui ibu, tak bisa dibendung lagi air mata ibu mengalir terus. Rasa bersalah, khawatir mendera ibu. Semoga Allah mengampuni kelalaian ibu menjaga amanah-Nya. Semoga Allah terus menolong ibu merawat mba nana…
Sepanjang selasa malam ibu dan ibu mertua berjaga, setelah sekitar empat lima jam obat racikan diberikan, panas mba naik lagi. Ibu nelepon sahabat ibu yang biasa jadi tempat bertanya, selain beliau sudah mempunyai tiga anak, orangnya tidak panikan, tetapi juga tidak sembrono. Seorang apoteker, sehingga biasanya saya bisa nanya-nanya tentang obat. Teh Nia mengatakan kuncinya ketenangan ibu, kalau sudah diberi obat panas dan anti kejang, insyaAllah bertahan, kalau sudah tiga kali sehari dikasih dan masih panas, berikan obat penurun panas yang lain. Aki juga saya minta bertanya ke dokter tetangga, dokter Budi mengatakan dijaga aja kondisi anaknya, dihabiskan obatnya, kalau masih panas naik turun setelah obat habis, baru tes darah. Tetapi rupanya keluarga masih memiliki penasaran, sehingga menyarankan untuk tes darah. Hmmm..tidak ada abah, kerasa sekali di saat seperti ini, saat pengambilan-pengambilan keputusan. Demi menghabiskan penasaran, Rabu sore mba ibu bawa lagi ke dokter anak, kali ini dengan dokter Yenni, diminta tes darah. Hasilnya Leukosit Normal, Trombosit turun ke 133 ribu. Dugaan dokter Demam Berdarah, sehingga langsung rawat inap sore itu juga. Innalillahi, dalam satu tahun ini, ibu, abah, dan sekarang mba nana yang mengalami DB.
Sepanjang sekitar tigapuluh menit ibu menunggu ketersediaan kamar sore itu. Ibu duduk sendiri di ruang tunggu pasien dokter anak, menggendong mba nana yang tertidur lemas. Biarlah, air mata ini terus mengalir sambil memandangi mba nana, memang dasar ibu cengeng, abah I need u… Ibu tidak mampu membendung perasaan. Orang-orang memandang ibu dengan rasa iba dan penasaran. Seorang diri di pojok kursi yang sepi, nangis lagi menggendong dan memandangi anaknya. Meni kayak sinetron he..
Setelah mendapat kamar, ibu menggendong mba keatas, ibu tidak diperkenankan menemani mba di ruang tindakan. Mungkin karena nanti anaknya lebih rewel saat dipasang infus, atau mungkin orang tuanya nanti yang bikin masalah, entahlah. Dari luar pintu ibu mendengar tangisan mba nana yang khas jika kesakitan, sambil memanggil bu..ibu..ibu… meminta tolong. Bagaimana lagi, ibu hanya menanti di luar sambil banjir he…
Sejak Rabu sore mba rawat inap, awalnya tidak suka dengna infus di tangan kirinya, hendak dibuangnya, pit..pit..pit (maksudnya dia menganggap tangannya kecepit). Tetap, mba menjadi gadis kecil yang baik hati, tidak rewel, dan menyenangkan ibu. Diambil darah tiap subuh, ah kasian.. menangis sesaat, hati ibu hancur. Esok kamis trombositnya turun ke 98, leukosit normal, hematokrit normal, suhu badan jg tidak panas lagi. Esok jum’at trombosit naik 125, sabtu pagi turun 103, sabtu sore turun 101. Ah mba nana, dia nampak bosan di tempat tidurnya, pengennya main saja. Kami ajak keluar sesekali. Memang agak aneh, anaknya tak tampak lemes seperti pas panas dulu, makannya juga lahap,Alhamdulillah. Dokter Yenni menyarankan tes IGG IGM (bener ga?) untuk melihat apakah memang virus DB, ataukah virus yang lain? Tes ini baru bisa dilakukan setelah hari ke tujuh sejak pertama panas. Kalau tidak, hasilnya tidak akan akurat. Hasilnya NEGATIF DB, Alhamdulillah (bercampur sedih, miris) ternyata mba terkena virus biasa, ketika daya tahannya tidak bagus.
Bagaimana lagi, ibu yang awam hanya bisa memaklumi keputusan dokter sejak awal, hari-hari ini penyakit makin aneh-aneh, gejala-gejalanya tidak lagi khas penyakit tertentu, sehinga yang bisa dilakukan dokter ya observasi, atau daripada..daripada.. lebih baik..lebih baik… Ibu berharap dokter-dokter makin rajin belajar dan makin pinter, sehingga lebih jitu observasinya.
Setelah semua yang harus dialami mba nana, jarum infus, ambil darah, terkungkung di bed rumah sakit, dan mungkin jg psikologisnya. Ibu hanya bisa memohon ampun kepada Allah, atas kelalaian ibu, rasa sakit, penderitaan yang harus dialami mba nana. Ibu mohon ampun atas kebodohan ibu, keputusan ibu yang mungkin salah. Ibu berharap Allah memandangnya sebagai ikhtiar ibu sebagai orang tua. Ibu mohon pertolongan Allah agar dibantu setiap saat dalam menjaga mba nana. Sekarang ibu selalu siaga obat siaga yang diperlukan, mudah-mudahan, cukup sekali saja yang dialami mba nana.