Sejak kapan ibu mendongengi mba nana? Entah ya… apa sejak bayi.. ibu punya banyak stok cerita untuk didongengin
dan ibu cukup cerewet untuk menceritakan berbagai kejadian dengan mba nana.
Ibu atau abah tak sangat sering membelikan mainan ataupun buku, tapi hal terbaik dari buku dan mainan (baru atau bekas) yg dimiliki mbanana adalah DIMAINKAN.
Berulang-ulang hingga bosan. Buku yang hingga mba nana sendiripun ‘membaca’ sendiri, merangkai-rangkai kalimat-kalimat pendek yang lucu.
Sebelum tidur adalah momen yang amat sayang ibu lewatkan, saat-saat ini mba nana akan minta cerita
“ibu suatu hari…”
sambil menyodorkan bukunya
“abah suatu hari..”
itu tandanya minta dibacakan cerita, mungkin ‘dosa’ mengawali cerita dengan suatu hari itu melekat di imajinasi mba nana xixixixii
sekarang, tak hanya menunggu sebelum tidur,
siang tengah bermain, atau kapan tertarik mengambil bukunya mba nana selalu menyodorkan
“ibu suatu hari..”
dan giliran ibu yang ‘kewalahan’ berkelit,
“mba nana sudah pernah baca ya, coba mba nana baca sendiri”
ngeloyorlah dia
*aaahhhhh dasar ibu, hiks ayo ibu tanggung jawab, keep dongeng yaw*
Tanggal 16 Desember 2009, hari pertama turun salju di bumi Delft. Pertama kali pula bagi ibu dan mba nana ‘merasakan’ salju.
Puji syukur kehadirat Allah, bahwa ibu dan mba nana berkesempatan mengalami pengalaman yang lain, yang insyaAllah akan memberi nilai tambah, memperkaya pandangan, dan semoga memperluas fikiran.
Pagi hari mba nana sudah melihat salju di pelataran parkir lewat jendela, tertutup putih seperti hamparan kapas, saljunya cukup tebal ternyata, ranting pohon juga tertutup salju, membentuk pemandangan yang indah, Subhanallah!
Abah mengajak kita jalan-jalan, rencananya ke IKEA abah ingin menyenangkan ibu dengan mengajak window shopping interior rumah, walopun ga beli pasti ibu suka kata abah xixxixi, bagi yang belum kenal IKEA adalah semacam toko serba ada khusus untuk kebutuhan interior rumah, dengan konsep barang-barangnya knock-down, bisa dibawa pulang oleh pembeli dalam keadaan tidak terpasang, kemudian dipasang sendiri di rumah. Konsep tokonya, di lantai atas kita dibawa berkeliling dari satu zona ke zona lain terus berurutan, di tiap zona ada temanya, misal kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, ruang tengah, dapur, dengan desain interior lengkap terpasang peralatannya. Kalau kita berniat membeli suatu barang maka nanti pramuniaga akan memberitahu kode lorong/tempat dimana barangnya dapat kita ambil sendiri, dan kita taruh di keranjang belanjaan untuk dibawa ke kasir.
Walah ini mah bener-bener window shopping, ibu suka sekali, melihat desain-desain interior rumah, yang minimalis fungsional. Kemudian sampai di zona anak, ibu melihat papan tulis, wah ini barang yang sangat ibu dambakan untuk mba nana, papan tulis berdiri untuk kapur dan spidol, serta bisa untuk rolling kertas untuk melukis, sekitar 17 euro. Aahhh ibu berminat sekali, agar mba nana lebih disiplin tidak mencoret dimana-mana, dan agar tidak menghabiskan kertas-kertas A4. Ibu sudah membayangkan ‘proyek’ ibu untuk mba nana dengan papan tulis ini.
Ibu jadi teringat semasa ibu kecil, ibunya ibu (mbah putri) dulu juga memakai papan tulis kecil untuk mengajari ibu baca tulis, dan bapak hampir setiap dua minggu sekali pulang kerja membawa sekotak kapur tulis *I really remember that moment*. Mbah putri yang berpendidikan sekolah dasar berprinsip mengantar anaknya harus bisa baca tulis di tangannya, kemudian selanjutnya terserah anaknya mau menjelajah dunia sejauh apa.
Sekarang ibupun juga sama, berniat mengantar mba nana baca tulis di tangan ibu. Nanti, insyaAllah semoga mba nana menuliskan karya-karya bermanfaat untuk peradaban dan kemanusiaan. Semoga Allah membuka jalan ^_^
Dulu, ibu ngajar di masjid Al Jihad Cisitu Indah – Bandung, membimbing ade-ade kecil 4-12 tahunan baca Qur’an. *really miss that moment again, semoga Allah memberi jalan agar ibu dapat melakukan aktifitas itu kembali*
Sekarang, giliran ibu mengajari putri ibu sendiri baca Iqra.
Alhamdulillah, halaman pertama buku Iqra, ternyata dapat dilewati dengan lancar *ibu surprise*
Semoga Allah terus memudahkan,
memberi kekuatan, kesehatan, dan umur pada ibu dan mba nana untuk belajar ayat2-Mu.
Alhamdulillah, mba nana mulai menghafal Al-Qur’an. Dimulai dari Al-fatihah yang telah lama di tamatkan. Kemudian Al-Ikhlas juga sudah dikenalnya, dan sekarang mulai mempelajari An-Naas.
Mungkin ibu harus lebih mengagendakan, ibu ingat ibu Wirianingsih, kira-kira demikian, saat kecil kita yang susah payah mengajarkan Al-Qur’an, telaten membacakan Shirah Nabawiyah, nanti kalau sudah besar, mereka yang akan lebih pintar, yang akan membacakan Al-Qur’an untuk kita, dan akan bercerita lebih banyak lagi tentang Al-Qur’an, tentang Shirah.
Ibu melihat minat dan bakat (kalau ibu tidak salah identifikasi) mba nana terhadap musik, kepekaannya terhadap nada, dan kecepatannya menguasai lagu. Tapi sampe sekarang, tidak ibu fasilitasi lebih jauh, selain memakai lagu untuk bermain, membuatnya gembira, dan untuk mengirim pesan tertentu kepada mba nana ^^. Setiap orang tua punya prioritas, punya pertimbangan, prioritas ibu dan juga abah adalah mba nana menguasai bacaan Al-Qur’an setidaknya dapat membaca Iqra sampai fasih, sebelum mengenalkannya pada alat-alat musik (atau mungkin tidak perlu). Semoga pilihan ibu tepat, bismillah.
Menggambar adalah hal yang membuat ibu deg-degan, ibu tidak mahir menggambar, hanya beberapa objek saja yang bisa ibu terjemahkan dalam gambar, kembang, meja, kursi, TV, ikan, rumah, dua gunung dan satu matahari Ibu bsia menirukan gambar, tapi mengekspresikan obyek dalam gambar, tanpa contoh, ibu menyerah.
Padahal bersama anak, ada saatnya berarti menjadi biduan, pelukis, pelawak, guru, perawat, dokter, koki, ustadzah, ahhh ibu-ibu pasti paham maksud saya ^^
Alhamdulillah, abah bisa mengisi posisi2 yang ibu sulit melakukan, seperti menggambar dan melawak, mba nana kompak banget soal ini dengan abahnya.
Lagi-lagi ibu dibikin surprise dengan ‘keajaiban’ si kecil, di usianya yang 2 tahun 5 bulan, si cantik fasih memegang pensil, krayon, spidol, dan menggoreskan gambar-gambar. Sering pula membuat bentuk-bentuk yang terlihat jelas bagi orang dewasa, beruang bisa digambarnya, sapi (disebutnya mo mo), ikan.
Yang lucu adalah caranya menggores, aihhhhh pak tino sidin wanna be ^^
Jazakallah abah, membuat mba nana pandai menggambar.
Di hampir 2 tahun 5 bulan usia mba nana, untuk pertama kalinya, ibu bisa berpamitan ketika hendak keluar rumah, tanpa drama mba nana yang menangis memanggil-manggil ibu…ibu..ibu.. mau ke ibu.. ibu enen dulu…. sembari tangannya yang dijulurkan seolah-olah berkata..ibu jangan tinggalkan mba nana (
Selama tahun-tahun itu, ibu harus keluar rumah sembunyi-sembunyi, kalau tidak akan melihat mba nana yang jejeritan,
atau kadang jika terpaksa sekali ibu akan menutup telinga dan berlari *maaf nak, kadang ibu ada kepentingan yang tidak bisa ditunda*
Tahun-tahun kebergantungan pada ASI, yang membuatnya ‘sakaw’ dan menjadikan ASI ‘perlindungan’ baik di kala gembira, sedih, cemas, takut, khawatir, sakit, semuanya lari ke ASI, ke pelukan ibunya.
Tahun-tahun yang Alhmdulillah, ibu diberi kesempatan untuk mencecap indah getirnya, meskipun, hampir semuanya menjadi manis dan indah ^^
Tahun-tahun dimana ibu merasa sangat ‘mulia’, memiliki nilai diri yang tinggi, sebab ibu merasa dibutuhkan.
Setelah dua tiga kali ‘training’, ibu dengan sengaja pergi keluar rumah terang-terangan, dengan mba nana yang digendong abahnya sambil menangis, sedikit demi sedikit ‘kesadaran’nya membuatnya mengerti bahwa ibu keluar rumah sementara, dan seperti janji ibu sebelumnya, insyaAllah ibu pulang, dan ibu pulang, dan itupun meyakinkannya untuk percaya ibu akan kembali.
Maka pagi tadi saat ibu berpamitan hendak ke kampus, pertama kalinya ibu melihat tidak ada lagi air mata, tidak menjerit, mau disalamin sama ibu, mau di cium ibu.
Ada kelegaan bahwa puteri ibu beranjak ‘dewasa’, semakin punya pengertian.
Tapi rupanya, ibu tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata, ternyata tidak mudah bagi ibu mengucapkan selamat tinggal.
Anak gadis ibu tumbuh semakin ‘dewasa’ dan semakin menjadi-jadi kemiripan dengan abahnya ) terutama adalah ‘kekreatifan’ untuk melakukan hal-hal lucu, atau mempertahankan ‘argumen’ nya xixixixixii
Maha Suci Allah, bagaimana caranya gadis kecil ibu mewarisi hal-hal yang susah diturunkan secara ‘eksplisit’, tidak melalui pengajaran, gerak laku abahnya, cara bicara abahnya, bahkan sepertinya cara berpikir abahnya terwarisi howalahhhh…
Entah dari mana datangnya tiba-tiba mba nana kepikiran menggoda ibu dengan panggilan ‘ibu’ yang dia modifikasi: fu fu..ifu..;))) atau kadang menjadi huk..huk..mau susu huk ))
atau berlaku seperti di filem china memanggil ibu lengkap: ibu didin…ibu didin..ibu didin mba nana mau coklat hangat ))))
atau sekarang dimodifikasi lagi: ibu aya didin..ibu aya didin mana tulis?? )))
Ibu sedang asyik membuatkan buku kecil berisi huruf hijaiyah, ibu print huruf-huruf hijaiyah dari internet berukuran sekitar 10c x 8cm, ibu tempelkan di kertas bekas dus susu agar menjadi tebal dan ga rusak di bolak-balik.
Mba nana keliatan antusias waktu itu menggunting kertas dan menempel-nempel.. xixixixi.. pengen juga tuh dia..belum dulu ya nak.. masih berbahaya..guntingnya besar….
sewaktu ibu main-main mba nana ini huruf apa.. alif
ini apa.. tsa
ini apa ha
ini apa sin
loh loh loh subhanallah.. kok sudah bisa ya…
ternyata mba nana banyak ‘terkesan’ dengan video alif ba ta yang hurufnya jalan-jalan itu dan juga VCD ini yang jg disukai mba nana sejak masih bayi.
memang mba nana sudah bisa mengucapkan alif sampai ya dengan runut dan betul
tetapi itu tidak menyangka mba nana juga mengenali huruf-hurufnya, sehingga kalau diperlaihatkan secara acak mba nana bisa menyebutnya
subhanallah Alhamdulillah..
sekarang insyaAllah ibu akan lebih intensif memperkenalkan huruf-huruf Al-Qur’an
*kejutan menyenangkan di pembukaan menulis kembali blog mbanana yang rada lama ga ditengok*
Mutiara Madinah, gadis cantik shalihat kelahiran 16 Juli 2007, numpang lahir di Kota Malang, kemudian pindah ke Bandung, dan sekarang di Delft - NL, ikut menemani ibu dan abah yang sedang studi.