a bcdefghijklmnopqrstuvwxyz
Archive for » 2010 «
Setiap kali mendengar bunyi telepon, mba nana akan segera memanggil ibu/abah, atau dia akan berlari2 membawakan HP, bunyi telepon harus segera dijawab menurutnya. Kalau abah/ibu menyalakan water cooker untuk membuat teh, begitu bunyi beep dan ceklek tanda air sudah mendidih, mba nana akan bersegera memberitahukan, “abah itu tehnya.”
Kalau ada bunyi bel (bunyi bel di sini ada dua macam, bunyi bel untuk membukakan gerbang flat dibawah, dan bunyi bel pintu depan rumah) maka mba nana akan bersegera meminta ibu untuk membukakan. Kadang kalau abahnya pulang, meski sudah membawa kunci gerbang flat dan pintu rumah, dari bawah abah akan memencet bel dulu, menandakan abah sudah pulang, biasanya ibu tidak akan membukakan gerbang flat, tetapi akan menunggu beberapa waktu untuk membukakan pintu rumah. Nah, kalau sudah begini mba nana akan ribut sekali meminta ibu untuk segera membuka pintu, baginya ibu tidak boleh terlambat membuka pintu.
Kalau ada yang memanggil ibu dan ibu tidak dengar, maka mba nana akan segera mengulang-ulang, “ibu itu, itu kata *****” Kalau sudah diberitahu akan diajak keluar, maka sudah dari tadi-tadi akan bersiap-siap, kalau menurutnya terlalu lama ga keluar, akan ditagih-tagihnya. Pernah ketika dia menginginkan snack gurih yang berbentuk segitiga, ibu menjanjikan insyaAllah nanti ibu belikan ya, maka setiap saat ditagihnya mana snack yang segitiga, sampe ibu memberinya. Jadi jangan bermain janji dengan mba nana, dia akan selalu mengingatnya.
Mainan pemberian tante atau om nya dihapalnya hingga sekarang, ini boneka beruang dari om ***, ini puzzle dari tante ***, ini boneka dari tante ***, kadang kalau menginginkan sebuah mainannya, dia akan meminta ke ibu dengan menyebut pemberinya, “ibu mana boneka mba nana yang dari om ***”.
Kadang kalau hendak tidur, diceritakannya tentang temannya, atau ketika dia berkunjung kerumah tante siapa, bertemu teteh dan Aa siapa, dan mengulang kalimat2 yang menurutnya menarik, padahal mungkin kejadian itu sudah lama sekali terjadi.
Ibu merasa, ibu dan abah termasuk orang yang cuek, tidak terlalu awas, tetapi mba nana orangnya detail dan sesuai prosedur hihihihi, dari mana ya? apa pengaruh Londo? baiklah, kalau memang kebaikan, semoga berkembang menjadi akhlak mulia.
Pada tanggal 9 Muharram, atau 15 Desember 2010, ibu sudah terbayang-bayang ingin masak yang lezat sebagai menu berbuka. Lezat disini adalah masakan kenangan waktu kecil yang terngiang-ngiang terus. Jadilah ibu membuat ‘jangan pedes’ (sayur lodeh yang pedes), kemarin ibu ganti dengan ‘lodeh rebung’, kemudian ‘urap’ yang kemarin ibu ganti dengan ‘trancam’ (campuran taoge mentah, timun, kacang panjang mentah, kemangi, dan tempe bakar yang diberi bumbu urap kelapa), pelengkap umbo rampenya ibu membuat dadar jagung, peyek udang, dan tak ketinggalan ‘iwak gerih’ (ikan asin tipis yang digoreng pake tepung). Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar! Klo sudah begini, nikmatnya tak kira-kira, tidak hanya sekedar makan, beserta kenangan dan semuanya
Mba nana yang doyan kriuk-kriuk asin (seperti abahnya), minta goreng ikan asin tepungnya, sebenarnya mba nana hanya suka makan tepung luarnya saja, kemarin ibu lihat ikan dalemnya ikut terkunyah yang kemudian dia lepeh. Mba nana habis sampe tiga ikan, dalemnya kemakan sedikit, kemudian dilepeh.
Malam hari ketika tidur, ibu membatin, kok mata mba nana agak bengkak ya…. pagi harinya garuk-garuk di perutnya, ibu lihat ada bentolan-bentolan besar. Ketika bangun, terlihat matanya jadi bengkak sipit, ada ruam merah di bawah mata, dan di bagian perut ada bentol-bentol besar.
Ibu berpikir kemungkinan mba nana alergi ikan yang dimakannya kemarin. Untuk P3K ibu minta mba nana minum susu banyak2, biasanya susu bisa jadi penawar alergi (ringan). Dan untuk membantu mengatasi gatal ibu oleskan body butter di sekujur tubuhnya, agar tidak terlalu kering yang bikin kulit gatal, dan kalaupun digaruk akan menahan/mengurangi kulit agar tidak lecet.
Ibu lihat di bungkus plastik ikannya, ditulis ikan Anchovy (teri), ukurannya memang lebih besar dari ikan teri biasanya, sudah dikeringkan dan dibelah dua sehingga penampakannya seperti ikan asin di Indonesia. Beberapa waktu lalu ibu juga menggoreng ikan ini, tapi tanpa tepung, digoreng kering sampai jadi kayak keripik, mba nana waktu itu juga makan, dan tidak ada reaksi alergi seperti ini. Tetapi yang kemarin memang agak beda, ibu balut dengan tepung, tepungnya kering tetapi ikan di dalamnya tidak terlalu kering, nah kemarin mba nana menggigiti yang begini (mungkin ikan yang tidak terlalu kering ada pengaruhnya?)
Siang hari mba nana bobo, bangun tidur ibu lihat ruam merah di mukanya bertambah banyak, kemudin bentol-bentol besar menjalar ke punggung dan paha. Meski tidak ada panas, tidak sesak napas, anaknya pun masih menari dan bernyanyi (sambil garuk2 tentunya), tapi ibu berpikir ini masih memburuk, ibu telepon abah yang masih di perjalanan pulang agar bertanya ke apotik apa bisa dikasih anti-histamin, sepengetahuan ibu untuk alergi ikan (bukan keracunan ikan) biasanya diberi anti-histamin. Tetapi rupanya apotik tidak mau memberikan, karena untuk anak kecil, reaksi alergi harus mendapat pengetahuan dokter dulu. Sebab anti-histamin begitu memang tergolong obat keras, sehingga harus benar jenis, takaran berdasarkan berat badan & usia.
Kemarin saat berbuka puasa 10 Muharram, abah yang baru datang menelpon Pak Satria (teman abah di Schiedam). Pak Sat yang juga tenaga medis berniat menjemput mba nana untuk dibawa ke dokter. Untuk dokter jaga diatas jam kerja, di Delft bisa menghubungi ini http://www.huisartsenpostdelft.nl/ letaknya satu komplek dengan rumah sakit Reinier de Graaf Delft, sehingga kalau gawat darurat langsung ditempatkan ke UGD. Apabila pasien tidak mampu bangun/jalan, maka dokternya bisa dipanggil untuk visit ke rumah.
Dokter bertanya ini itu, mencatat ini itu, tapi tidak banyak, entah apa mungkin bahasa Inggrisnya yang kurang ‘canggih’ sehingga kurang komunikatif. Kemudian dokter memberikan resep anti alergi berupa sirup/cairan ‘AERIUS KIDS 0.5MG / ML SYRUP’ untuk mba nana diminum sehari sekali 2,5 mililiter. Apotik di Delft yang buka malam hari disini http://www.buitenhofapotheek.nl/
Malam hari setelah minum obat ini mba nana tertidur pulas. Alhamdulillah paginya ruam dan bentol merah berkurang drastis, tinggal matanya yang masih ada bengkak. Semoga alerginya segera sembuh tak berbekas segala sakitnya, dan untuk ibu harus lebih berhati-hati menghindarkan penyebab alergi, agar tidak terulang lagi. Untuk alergi makanan pada anak bisa baca-baca disini.
Sejalan usianya 3T, 4bln, rupanya koordinasi motorik halus dan kasar mba nana semakin berkembang. Sekarang bisa dengan lebih baik makan sendiri, memegang sendoknya fasih, dan tidak terlalu kececeran, dan.. sampai titik makanan penghabisan.. Alhamdulillah… jadi ibu tidak harus menghabiskan toh
Kalau ibu suapin juga, suka sampai licin tandas piringnya, apa karena musim dingin juga ya
Alhamdulillah ^_^
Mba nana juga sudah bisa melompat dengan dua kaki, wuiihhh senengnya kalau dipuji, akan di ulang-ulaginya
Alhamdulillah ^_^
Mba nana suka meminta ibu atau abah membacakan buku ini, seperti biasa, membuka lembar demi lembar, membaca dengan menunjuk kalimat demi kalimat. Dan dia akan meminta membacakan sampai tamat alias satu juz dowenggggg.
Kadang kalau ibu capek sekali, di tengah-tengah ibu minta dispensasi berhenti dulu ya mba nana, kita lanjutkan besok. Sepertinya ibu dan abah harus ekstra tenaga untuk mengawal profesor cilik yang sedang aktif ini. Kalau sekarang ibu dan abah yang bersabar mengajari mba nana ini dan itu, insyaAllah kelak mba nana yang akan membacakan Al-Qur’an untuk ibu dan abah. insyaAllah…amiinnn.
Beginilah cara mba nana membaca buku, mba nana bisa membaca buku yang sudah diceritakan kepadanya, ketika ibu atau abah cerita dengan menunjuk kalimat-kalimat di buku, pendengaran dan otak mba nana bekerja, merekamnya, dan dikali lain, mba nana akan mengambil dan membaca bukunya sendiri, dengan caranya yang unik, yaitu menceritakan kembali
Jika ada buku menarik hatinya yang belum diketahui, mba nana akan meminta ibu dan abah menceritakan dahulu.
Ibu ingat Baby-Bop di serial Barney yang berusia tiga tahun juga begini caranya, dia akan membaca buku yang sudah diketahui ceritanya, sehingga teman-teman Baby-Bop membantunya membacakan buku-buku di perpustakaan, sehingga bacaan Baby-Bop banyak. Hmm…. mungkin memang begini ya cara anak tiga tahun bekerja
Setelah selama ini mba nana dibiasakan dan terbiasa minta maaf, agaknya otak kreatifnya mulai bekerja, minta maaf dijadikannya senjata ampuh untuk meluluhkan ibu atau abah kalau dia merasa membuat kesalahan.
Kalau merasa kesel, kemudian dia pukul ibu atau abah, maka buru-buru diulurkan tangannya meminta maaf, “minta maaf…” dengan begitu diharapkan ibu/abah tidak jadi cemberut.
Atau kadang untuk melampiaskan hatinya yang sedang kesal, senaja dibuang dulu mainannya, kemudian buru-buru minta maaf, jadi kekesalannya sudah terpenuhi, dan menghindari ibu yang akan menceramahinya (hahahaha dasar si ndul).
Ibu suka heran, mba nana bisa menterjemahkan bahasa Inggris ke Belanda, atau Spanyol ke Belanda. Kalau menonton Dora yang berbahasa Belanda, mba nana menjawab pertanyaan Dora, atau mengikuti instruksinya. Kalau bahasa Belanda ibu tidak heran, karena di sekolah mba nana terekspos bahasa Belanda, guru dan teman-temannya berbahasa Belanda penuh.
Kalau bahasa Inggris didapatnya dari video pendek favoritnya, seperti strawberry shortcake, program anak di TV BBC, atau lagu-lagu anak berbahasa Inggris. Akhir-akhir ini dia suka mickey mouse di youtube yang kebetulan berbahasa Spanyol, dan juga Pocoyo yang bernarasi Spanyol. Akibatnya mba nana bisa menghitung dalam bahasa Spanyol, dan mengerti instruksi-instruksinya. Anak-anak memang seperti Sponge, dengan pendengaran dan memori otaknya mampu belajar bahasa dengan cepat.
Ibu mendapat advis dari petugas posyandu gemente, dan juga browsing tentang anak multibahasa, untuk mengajari mba nana satu bahasa sampai fasih, yaitu bahasa ibu (dalam hal ini bahasa Indonesia), dengan sudah menguasai satu bahasa dengan baik, maka dengan mudah mba nana menguasai bahasa-bahasa lain.
Agaknya nasehat ini berbuah baik, di rumah mba nana berbahasa Indonesia dengan ibu-abahnya, dan semoga dengan sering mendengarkan diskusi-diskusi ibu-abah (dari yang ringan hingga berat), perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia mba nana semakin kaya. Tanpa ibu campuri, mba nana belajar bahasa asing dengan sendirinya (Belanda, Inggris Spanyol), dengan fasilitas yang dia ketahui. Mudah-mudahan ada jalan mba nana terekspos dengan bahasa Arab, sehingga mba nana juga dapat menguasainya (membayangkan suatu saat mba nana menceritakan ke ibu karya-karya klasik Al Bidayah wan Nihayah, Muqadimah Ibnu Khaldun+bukunya).


