Setiap bulan mba nana menerima (membeli) satu majalan dari sekolahnya seharga empat ribu rupiah. Begitu sampai rumah dihabiskannya majalah itu (termasuk ibu yang harus segera membacakan cerita-cerita di dalamnya). Majalah murah meriah dengan kertas yang minimal kualitasnya, tapi cukup berisi (semoga Allah melariskan majalah ini dan memberi balasan materi maupun non materi yang melimpah kepada pembuatnya). Ada selembar cerita komik tentang si Abu yang kocak mirip Abunawas, ada lembar menggunting dan menempel, ada lembar gambar-gambar untuk melatih anak dapat membedakan besar-kecil, ada lembar hafalan doa, ada lembar bahasa arab sederhana, cerita pendek binatang (fabel) dan halaman mewarnai.
Dulu ibu berpikir mba nana ga minat mewarnai, karena ibu pernah mengikutkan mba nana klub mewarnai/menggambar hanya bertahan dua kali pertemuan. Isinya dia ngoceh sendiri sementara anak yang lain duduk anteng tak bersuara fokus mewarnai/menggambar, dan malaaasss sekali dia mewarnai. Kalau sudah jamnya pulang, bukan main riangnya, “Kita pulang Bu? yeeeeaaaa…” hihihi
Ibu duga karena di tempat tersebut, pembimbingnya meminta mba nana mewarna dengan rapi, kemudian memberitahu warna-warna yang seharusnya dia gunakan. Disamping itu, tidak anak-anak yang bicara, hening konsentrasi, sementara mba nana masih harus segala diomongin dulu
Tidak heran, karena di klub itu anak-anaknya dicetak untuk mahir mengikuti lomba-lomba mewarna. Sepertinya memang bukan tempat untuk mba nana yang maunya mewarna dengan warna apa saja yang dia mau. Kenapa ibu masukin klub itu ya? Dulu ibu fikir baru tiba di Indonesia, biar ada temannya, dan sebenarnya ibu diajak teman aja siy jadi ngikut
Tetapi di majalah anak murmer tadi, mba nana senang mewarnai.
“Ibu mana biru kacau?” katanya
“Biru kacau?” ibu kok ga ngeh ya
“iya biru kacau,” tegasnya lagi
Tet tot.. ibu ingat…
“Biru tosca ya mbanana?” hihihi ibu ingat kemarin memperkenalkan mba nana warna-warna yang lebih kaya. Biru ada macam-macam, biru tua, biru muda, biru tosca, yang diingetnya biru kacau =)

