Hari Rabu dini hari, 18 Januari 2012, ibu mendapati mba nana mata kanan dan bibir atas sebelah kanan (saja) mulai membengkak. Ibu sudah mencurigai ini kemungkinan reaksi alergi. Pagi hari bengkaknya sudah rata mata kiri kanan bengkak dan bibir atas seluruhnya bengkak. Sejak dua hari lalu mba nana agak pilek. Tapi kalau pilek menyebabkan mata dan bibir bengkak rasanya kecil sekali kemungkinannya.
Jam 6-an, ibu membawa mba nana ke UGD yang terdekat dari rumah yaitu Puskesmas Bumiaji. Reaksi alergi tidak begitu membahayakan, tapi akan menjadi berbahaya jika dibiarkan, yaitu kemungkinan muncul reaksi yang lebih berat, misalnya kemungkinan sesak. Disitu yang jaga seorang perawat. Perawat tersebut hendak memberikan obat racikan/puyer. Karena sudah mempunyai pengalaman susahnya mba nana minum obat pait macam puyer, ibu minta sediaan sirup. Ternyata puskesmas tidak punya.
Akhirnya ibu membawa ke rumah sakit lain yang ada dokter jaga, di RS Etty. Dokter menawarkan juga tes lab untuk jaga-jaga kemungkinan penyakit tertentu. Saya meminta kebertahapan saja. Kemungkinan alergi dulu, kalau dua hari minum obat anti alergi tidak membaik, baru tes lab. Ibu juga meminta sediaan sirup. Dan mendapat ‘Rihest’ Loratadine. Sesuai dengan usianya 4 tahun 6 bulan dengan berat 15 kg, mba nana minum tiga kali sehari @2,5 ml sesudah makan. Setelah minum bengkaknya mulai menipis hingga minum yang kelima kali bengkaknya hilang.
Ibu mulai mendaftar apa saja kemungkinan alergi mba nana. Hari selasa mba nana makan nasi dan telur dadar, di sekolah bayam dan telur puyuh, malam hari itu mba nana makan mie instant rebus rasa soto dengan bumbu koya dan bumbu bubuk, kuahnya pekat. Ibu menduga bumbu mie instant inilah yang tidak dapat ditoleransi tubuh mba nana, apalagi kondisinya yang sudah dua hari tidak enak badan/flue.

