Ujian qiroati jilid satu di halaman 44 tiap hari dibaca mbanana, entah kenapa dia suka baca halaman itu, saya duga karena melodinya menarik, dakhola wakhoroja, hakama wa ádala, jalasa wasakata dst….mungkin kalau ujian kenaikan jilid dia akan lulus. Tetapi sebenarnya saat ini mba nana masih belajar di halaman 35, dan kadang harus diulang halamannya jika bu ustadzah mendapati kesalahan, misal yang pendek dibaca kepanjangan, atau makhroj belum pas.
Metode Qiroati memang lebih ketat daripada metode Iqro’, pengajarnyapun harus ter-talaqi. Untuk Iqro’ yang dipakai di sekolah TK, mba nana naik ke jilid 3. *note: boleh belajar Qurán metode apa saja, yang penting adalah gurunya, yaitu yang bagus bacaan Quránnya, bagus juga kalau ter-talaqqi*
Setiap Senin sampai Jumát bada asar jam 3 sampai 4, mba nana pergi ke TPQ dekat rumah. Lucu juga, kalau pagi gaul dengan teman sekolah yang umumnya tidak satu kampung, kalau sore gaul dengan teman TPQ satu kampung * anak ibu gaul juga euy
*
Setiap datang ke TPQ, satu dua lembar dibaca, di ulang atau lanjut tergantung penilaian ustazahnya. Lembar yang dibaca sedikit karena ibu ustazah harus manggil satu per satu ke depan untuk setiap grup. Kadang ibu menyangka, sebenarnya mba nana bisa beberapa lembar sekaligus, tapi tidak memungkinkan dengan sistem kelas yang santrinya lumayan banyak dan waktu yang terbatas juga karena shift dengan kelas lain. Biarlah, nuansa komunitas relijius itu penting, bersama-sama agar belajar yang namanya berjamaah itu isinya latihan sabar
Di rumah ibu juga melatih mba nana, tapi ibu belum tersertifikasi/ter-talaqqi untuk metode Qiroati, sehingga tidak layak memberi penilaian kepada mba nana.
Maka meski mba nana sudah Iqro dua ke tiga, dan sering berlatih halaman ujian Qiroati jilid 1, mba nana harus bersabar setoran setiap hari untuk menyelesaikan lembar demi lembar sampai halaman 43 untuk bisa ujian halaman 44. Kalau yang dicari adalah kenaikan jilid, maka mba nana bisa langsung ujian halaman 44. Tetapi lebih penting dia ‘diteter’ dilatih untuk benar bacaannya.
Ibu jadi ingat bertahun-tahun lalu, kadang kalau belajar di bangku sekolah, umumnya tidak bersabar untuk faham sedikit demi sedikit, tetapi loncat ke ‘drilling’ soal-soal ujian sampai ngelotok. Akibatnya master ujian tapi entah mastering ilmunya seberapa? Untuk mba nana harus ada perbaikan, belajar dengan sabar sedikit demi sedikit hingga faham, soal ujian hanyalah penilaian atas kemampuannya, toch tidak semua yang dia mampu diujikan, jadi yg penting praktek dan mengamalkan ilmunya atuh ya.