Author Archive

Si Tertib

Biasanya jam tujuh atau delapan mba nana sudah terlelap. Tetapi jika sempat tidur di siang hari, malamnya akan lebih tahan untuk tidur jam sembilan atau sepuluh. Untuk menghabiskan waktu, mba nana suka mewarnai atau membaca bukunya hingga capek.

Kemarin mba nana telat masuk sekolah karena menyelesaikan pe er nya yang waktu itu belum sempat terselesaikan.
Ibu bilang, “Sudah tidak perlu dikerjakan pe er nya, berangkat sekolah saja nanti terlambat”. *ini nasehat yang bener apa ga bener heuheu*
Ehh mba nana malah nangis keras-keras. “Ga mau bu.. belum selesai pe er nya…”

Malam harinya, kebetulan pas dia ga ngantuk karena sudah tidur siang cukup panjang. Ibu sudah teler bersama adiknya.
Eh mba nana mencium pipi ibu, “Ibu, mba nana kerjakan pe er dulu ya… biar besok ga terlambat sekolahnya…”
Ck..ck..ck.. ini anak…

Surah-surah

Mba Nana teh rajin pisan ngajinya, ibu jadi senang.  Nama-nama surat dibacanya, halaman dicarinya. Mba Nana sudah bisa membaca lancar, bisa membaca daftar isi, halaman, dan arti.
“Kalau An-Naml semut gimana bu?”
“Surat An-Nisa gimana bu? yang halaman tujuh puluh tuju”
“Kalau Ar-Rum gimana bu?”

Huhuhu… ibu belum hafal mba nana.. maaffff…. seandainya ibu menguasai Al-Qurán, tentu mba nana lebih terbimbing. Meski ibu terbatas, semoga bisa membimbing mba nana. Semoga Allah mendekatkan mba Nana kepada orang-orang sholeh yang akan membantu ibu dan mba nana menjadi orang shalih pula. Amiinn

Pembelajar

Assalamu’alaykum wr.wb.

Halo mba nana…. tahukah mba nana punya keasyikan yang luar biasa? iya… mba nana gemar menuntut ilmu, membaca ini itu, baca qur’an, baca buku, baca diba’ mbah, baca buku manasik mbah, baca majalah dari sekolah, Subhanallah!

Dari mata melek sampe merem lagi, selalu saja ada yang dipelajari. Mbahnya sampe capek liatnya… ada anak kok baca melulu… capek mbak nana…
Sepertinya mbanana seorang pembelajar, setiap hari harus ada tambahan ilmu. Bahkan lampu padam dari PLN, tetap saja dia harus baca ck..ck..ck..

insyaAllah Nak, semoga Allah mudahkan mba nana menjadi seorang ‘alim… yang dalam ilmunya, sehingga dengan ilmunya itu semakin takut kepada Allah.

Si Adil Edisi Hitam Putih

Dia tidak mau memakai baju yang bukan bajunya, pun dia akan protes kalau baju atau barangnya dipakai orang lain tanpa seizin/sepengetahuannya. Dia juga akan mengomentari jika baju ibu dipakai mbah putri, sandal tante vita dipakai ibu, jilbab ibu dipakai tante vita.
“Kenapa ibu pakai sandal tante?”
“Itu jilbab ibu, mbah”

Diam-diam, dia mengamati, barang ini kepunyaan siapa. Dia tidak suka kalau orang tidak tepat memakai barang. Dia tidak suka kalau dering telepon tidak segera diangkat. Dia tidak suka kalau tamu tidak segera di jawab.

Dia juga tidak suka kalau membuka bungkus snack tidak bagian atas, alias terbalik nanti gambarnya :D Dia tidak suka kalau buku sekolahnya ada yang ketinggalan. Dia harus tepat dan benar.

Putri ibu ini, Subhanallah bibit karakternya sesungguhnya sangat baik. Inilah bibit jujur dan adil. Meski sekarang yang dilakukannya nampak hitam putih. Bisakah ibu memupuk dan menjaga hingga akarnya kuat menghujam, dedaunannya rimbun, dan buahnya manis?

Alergi kedua

Hari Rabu dini hari, 18 Januari 2012, ibu mendapati mba nana mata kanan dan bibir atas sebelah kanan (saja) mulai membengkak. Ibu sudah mencurigai ini kemungkinan reaksi alergi. Pagi hari bengkaknya sudah rata mata kiri kanan bengkak dan bibir atas seluruhnya bengkak. Sejak dua hari lalu mba nana agak pilek. Tapi kalau pilek menyebabkan mata dan bibir bengkak rasanya kecil sekali kemungkinannya.

Jam 6-an, ibu membawa mba nana ke UGD yang terdekat dari rumah yaitu Puskesmas Bumiaji. Reaksi alergi tidak begitu membahayakan, tapi akan menjadi berbahaya jika dibiarkan, yaitu kemungkinan muncul reaksi yang lebih berat, misalnya kemungkinan sesak. Disitu yang jaga seorang perawat. Perawat tersebut hendak memberikan obat racikan/puyer. Karena sudah mempunyai pengalaman susahnya mba nana minum obat pait macam puyer, ibu minta sediaan sirup. Ternyata puskesmas tidak punya.

Akhirnya ibu membawa ke rumah sakit lain yang ada dokter jaga, di RS Etty. Dokter menawarkan juga tes lab untuk jaga-jaga kemungkinan penyakit tertentu. Saya meminta kebertahapan saja. Kemungkinan alergi dulu, kalau dua hari minum obat anti alergi tidak membaik, baru tes lab. Ibu juga meminta sediaan sirup. Dan mendapat ‘Rihest’ Loratadine. Sesuai dengan usianya 4 tahun 6 bulan dengan berat 15 kg, mba nana minum tiga kali sehari @2,5 ml sesudah makan. Setelah minum bengkaknya mulai menipis hingga minum yang kelima kali bengkaknya hilang.

Ibu mulai mendaftar apa saja kemungkinan alergi mba nana. Hari selasa mba nana makan nasi dan telur dadar, di sekolah bayam dan telur puyuh, malam hari itu mba nana makan mie instant rebus rasa soto dengan bumbu koya dan bumbu bubuk, kuahnya pekat. Ibu menduga bumbu mie instant inilah yang tidak dapat ditoleransi tubuh mba nana, apalagi kondisinya yang sudah dua hari tidak enak badan/flue.

Naik satu jilid

Alhamdulillah mbak nana Iqro di sekolah naik ke jilid 3. Bersamaan dengan itu Qiroati di TPQ naik jilid 2. Subhanallah, kemajuan berlipat dari kami ibu bapaknya, semoga istiqomah dan menjadi alim, doa dari kami semua =)

Les

“Ibu les itu apa?”
“Apa mba nana?” saya belum ngeh
“Itu yang kayak Ivan, les” jawabnya
“Oohh Ivan les itu belajar, tapi tidak diajarin ibunya, diajarin sama guru les”
“Ibunya di jendela ya”
Mungkin karena sering lihat ibunya ivan di jendela hihiihhihih

Biru Kacau

Setiap bulan mba nana menerima (membeli) satu majalan dari sekolahnya seharga empat ribu rupiah. Begitu sampai rumah dihabiskannya majalah itu (termasuk ibu yang harus segera membacakan cerita-cerita di dalamnya). Majalah murah meriah dengan kertas yang minimal kualitasnya, tapi cukup berisi (semoga Allah melariskan majalah ini dan memberi balasan materi maupun non materi yang melimpah kepada pembuatnya). Ada selembar cerita komik tentang si Abu yang kocak mirip Abunawas, ada lembar menggunting dan menempel, ada lembar gambar-gambar untuk melatih anak dapat membedakan besar-kecil, ada lembar hafalan doa, ada lembar bahasa arab sederhana, cerita pendek binatang (fabel) dan halaman mewarnai.

Dulu ibu berpikir mba nana ga minat mewarnai, karena ibu pernah mengikutkan mba nana klub mewarnai/menggambar hanya bertahan dua kali pertemuan. Isinya dia ngoceh sendiri sementara anak yang lain duduk anteng tak bersuara fokus mewarnai/menggambar, dan malaaasss sekali dia mewarnai. Kalau sudah jamnya pulang, bukan main riangnya, “Kita pulang Bu? yeeeeaaaa…” hihihi

Ibu duga karena di tempat tersebut, pembimbingnya meminta mba nana mewarna dengan rapi, kemudian memberitahu warna-warna yang seharusnya dia gunakan. Disamping itu, tidak anak-anak yang bicara, hening konsentrasi, sementara mba nana masih harus segala diomongin dulu :D Tidak heran, karena di klub itu anak-anaknya dicetak untuk mahir mengikuti lomba-lomba mewarna. Sepertinya memang bukan tempat untuk mba nana yang maunya mewarna dengan warna apa saja yang dia mau. Kenapa ibu masukin klub itu ya? Dulu ibu fikir baru tiba di Indonesia, biar ada temannya, dan sebenarnya ibu diajak teman aja siy jadi ngikut :D :D :D

Tetapi di majalah anak murmer tadi, mba nana senang mewarnai.
“Ibu mana biru kacau?” katanya
“Biru kacau?” ibu kok ga ngeh ya
“iya biru kacau,” tegasnya lagi
Tet tot.. ibu ingat…
“Biru tosca ya mbanana?” hihihi ibu ingat kemarin memperkenalkan mba nana warna-warna yang lebih kaya. Biru ada macam-macam, biru tua, biru muda, biru tosca, yang diingetnya biru kacau =)

Sosialisasi

Subhanallah, meski  mbanana cenderung tidak mau tampil di tempat umum, ternyata mba nana mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik.  Dia pandai mengambil hati orang, cenderung populer/disukai teman-temannya.  Ibu perhatikan itu karena dia suka bertanya ke teman atau orang lain sehingga mereka merasa diistimewakan.
“Mba Anis qiroatinya jilid berapa?”
“Mau kemana mbah Muin,”
“Ivan dari mana?”
“Kuenya dibeli dimana?”
dst………….

Pinter ih mba nana, pinter ngambil hati orang, tak heran rejekinya banyak :D
“Mbah Muin….” pulang pulang sekresek salak dech
“Ibu Ivan….” dapat deh bakso
“Mbah Sit….” langganan beliin es krim

Di sekolah juga kalau ketemu temannya, mba nana nampak antusias menyambut/menyapa duluan.
“Dini………..” sambil berlari dipeluknya Dini
“Aisyah……” digandeng tangannya

Ibu-ibu teman-temannya juga dipanggil sebagaimana anak-anaknya memanggil, jadi ibu-ibu tersebut merasa dipanggil oleh anaknya sendiri. Seperti memanggil Ibu ke ibunya Ivan, panggil Bunda ke bundanya Viki, Ibu ke ibunya novi, dst…
Bisa aja mba nana =)

Belajar untuk ujian dan berlatih untuk faham

Ujian qiroati jilid satu di halaman 44 tiap hari dibaca mbanana, entah kenapa dia suka baca halaman itu, saya duga karena melodinya menarik, dakhola wakhoroja, hakama wa ádala, jalasa wasakata dst….mungkin kalau ujian kenaikan jilid dia akan lulus. Tetapi sebenarnya saat ini mba nana masih belajar di halaman 35, dan kadang harus diulang halamannya jika bu ustadzah mendapati kesalahan, misal yang pendek dibaca kepanjangan, atau makhroj belum pas.

Metode Qiroati memang lebih ketat daripada metode Iqro’, pengajarnyapun harus ter-talaqi.  Untuk Iqro’ yang dipakai di sekolah TK, mba nana naik ke jilid 3.  *note: boleh belajar Qurán metode apa saja, yang penting adalah gurunya, yaitu yang bagus bacaan Quránnya, bagus juga kalau ter-talaqqi*

Setiap Senin sampai Jumát bada asar jam 3 sampai 4, mba nana pergi ke TPQ dekat rumah.  Lucu juga, kalau pagi gaul dengan teman sekolah yang umumnya tidak satu kampung, kalau sore gaul dengan teman TPQ satu kampung * anak ibu gaul juga euy :D *

Setiap datang ke TPQ, satu dua lembar dibaca, di ulang atau lanjut tergantung penilaian ustazahnya.  Lembar yang dibaca sedikit karena ibu ustazah harus manggil satu per satu ke depan untuk setiap grup.  Kadang ibu menyangka, sebenarnya mba nana bisa beberapa lembar sekaligus, tapi tidak memungkinkan dengan sistem kelas yang santrinya lumayan banyak dan waktu yang terbatas juga karena shift dengan kelas lain.  Biarlah, nuansa komunitas relijius itu penting, bersama-sama agar belajar yang namanya berjamaah itu isinya latihan sabar :D  Di rumah ibu juga melatih mba nana, tapi ibu belum tersertifikasi/ter-talaqqi untuk metode Qiroati, sehingga tidak layak memberi penilaian kepada mba nana.

Maka meski mba nana sudah Iqro dua ke tiga, dan sering berlatih halaman ujian Qiroati jilid 1,  mba nana harus bersabar setoran setiap hari untuk menyelesaikan lembar demi lembar sampai halaman 43 untuk bisa ujian halaman 44.  Kalau yang dicari adalah kenaikan jilid, maka mba nana bisa langsung ujian halaman 44.  Tetapi lebih penting dia ‘diteter’ dilatih untuk benar bacaannya.

Ibu jadi ingat bertahun-tahun lalu, kadang kalau belajar di bangku sekolah, umumnya tidak bersabar untuk faham sedikit demi sedikit, tetapi loncat ke ‘drilling’ soal-soal ujian sampai ngelotok.  Akibatnya master ujian tapi entah mastering ilmunya seberapa? Untuk mba nana harus ada perbaikan, belajar dengan sabar sedikit demi sedikit hingga faham, soal ujian hanyalah penilaian atas kemampuannya, toch tidak semua yang dia mampu diujikan, jadi yg penting praktek dan mengamalkan ilmunya atuh ya.